
Scroll Tanpa Henti: Kebiasaan Sepele yang Diam-diam Mengganggu Kesehatan Mental
Scrolling tanpa henti di media sosial sering dianggap sepele, padahal dapat memengaruhi kesehatan mental. Kebiasaan ini memicu overthinking, kecemasan, digital burnout, hingga gangguan tidur. Kenali dampaknya dan mulai atur penggunaan gadget dengan lebih bijak.
Pricilia HommyIndonesiaApr 29, 2026, 3:00 AM
Kebiasaan scrolling di media sosial sering dianggap sekadar hiburan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berlebihan justru dapat berdampak pada kesehatan mental, terutama di kalangan pengguna aktif internet.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, media sosial menjadi bagian dari rutinitas harian. Laporan DataReportal (2024) menunjukkan bahwa rata-rata waktu penggunaan internet di Indonesia mencapai lebih dari 7 jam per hari, dengan sebagian besar dihabiskan untuk mengakses media sosial.

Baca juga : Belajar Memaafkan Masa Lalu untuk Mengakhiri Toxic Parenting
Kebiassaan ini sering dimulai dari niat sederhana – membuka ponsel untuk beberapa menit. Namun, fitur infinite scroll membuat pengguna terus terpapar konten tanpa batas. Akibatnya, waktu penggunaan menjadi sulit dikontrol.
Tidak hanya soal waktu, dampak psikologis juga mulai menjadi perhatian. Studi dari American Psychological Association (APA) menyebutkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Hal ini terjadi karena pengguna cenderung membandingkan kehidupan nyata dengan apa yang mereka lihat di layar.

Fenomena ini semakin relevan dengan tren digital burnout yang banyak dibicarakan belakangan ini. Istilah ini merujuk pada kondisi kelelahan mental akibat paparan digital yang terus-menerus, termasuk notifikasi tanpa henti dan arus informasi yang deras.
Selain itu, penggunaan ponsel sebelum tidur juga berdampak pada kualitas istirahat. Paparan cahaya biru dari layar dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang membantu mengatur tidur. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit tidur dan tidak mendapatkan istirahat yang optimal.

Baca juga : Membangun Toleransi Antar Agama: Pentingnya Menghindari Prasangka terhadap Perbedaan Keyakinan
Meski demikian, penggunaan media sosial tidak selalu berdampak negative. Kuncinya terletak pada bagaimana seseorang mengelola waktu dan cara penggunaanya. Membatasi durasi layar, mengatur notifikasi, serta menyediakan waktu tanpa gawai (digital detox) dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga keseimbangan.

Scrolling tanpa henti bukan sekadar kebiasaan ringan, tetapi fenonema yang memiliki dampak nyata terhadap kesehatan mental. Dengan memahami risikonya dan mulai mengatur penggunaan teknologi secara bijak, kita dapat tetap terhubung tanpa harus mengorbankan kesejahteraan diri.
Bagikan berita ini...
Scrolling tanpa henti di media sosial sering dianggap sepele, padahal dapat memengaruhi kesehatan mental. Kebiasaan ini memicu overthinking, kecemasan, digital burnout, hingga gangguan tidur. Kenali dampaknya dan mulai atur penggunaan gadget dengan lebih bijak.
Terafim dalam Kejadian 31 menyimpan makna penting tentang iman dan kepercayaan. Mengapa Rahel mencuri berhala ini? Apakah karena takut atau berharap berkat? Pelajari arti terafim, fungsinya, serta pelajaran rohani tentang ketergantungan kepada Tuhan.
Sebanyak 28 peserta SYL JC 2026 menghadiri Perayaan Paskah Pemprov DKI Jakarta di Kota Tua, sebagai bagian praktik pelayanan, sekaligus memperkuat nilai toleransi, kebersamaan, dan iman di tengah masyarakat.
Pemuda jemaat Anna Maria Leiwakabessy Medan memperingati Global Youth Day 2026 dengan aksi unik menukar rokok dengan jus di sekitar Kampus USU, sekaligus membagikan traktat kesehatan dan buku rohani untuk mengajak masyarakat hidup lebih sehat.
Membangun toleransi antar agama menjadi kunci penting dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Dengan menghindari prasangka terhadap agama lain dan menghargai perbedaan keyakinan, tercipta hubungan yang harmonis, damai, dan saling menghormati di tengah keberagaman.
Tim Rumah Sakit Advent Medan menggelar charity clinic di Desa Ajijahe dengan layanan pemeriksaan kesehatan gratis dan pembagian kacamata, melayani 100 pasien sekaligus memperkenalkan pelayanan RS kepada masyarakat.
Pemuda jemaat Germania menggelar aksi bersih lingkungan di Jalan Tanjung Kusta Medan dalam rangka Global Youth Day 2026, sebagai upaya nyata mencegah banjir dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan.
Makna Shema dalam Ulangan 6:4 menegaskan keesaan Allah dalam Kekristenan. Pelajari hubungan monoteisme dan doktrin Trinitas berdasarkan Alkitab, dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, serta perkembangan pemahamannya dalam sejarah gereja.
Bakti Wanita Advent (BWA) JRP melayani di Lapas Pondok Bambu pada 9 April 2026 melalui ibadah, kesaksian, dan pujian bertema “Undangan Menerima Yesus,” yang membawa sukacita rohani bagi sekitar 70 warga binaan.
Para Pathfinder Jemaat Pelita Sumbul Dairi mengadakan pelayanan masyarakat di RSUD Sidikalang dalam rangka Global Youth Day 2026 dengan membagikan 21 buku rohani serta mendoakan pasien dan keluarga, sebagai wujud nyata keberanian pemuda dalam membagikan iman dan menghadirkan pengharapan.








