
SHEMA dan PEMAHAMAN TRINITAS berdasarkan Ulangan 6
Makna Shema dalam Ulangan 6:4 menegaskan keesaan Allah dalam Kekristenan. Pelajari hubungan monoteisme dan doktrin Trinitas berdasarkan Alkitab, dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, serta perkembangan pemahamannya dalam sejarah gereja.
Pdt. Raymond LohonaumanIndonesiaApr 10, 2026, 7:00 AM
Ulangan 6:4 menjadi salah satu pengakuan iman paling penting dalam Alkitab: “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” Pernyataan ini menegaskan bahwa iman Kristen berdiri di atas dasar monoteisme, yaitu penyembahan kepada satu Allah yang benar. Namun, di sisi lain, Alkitab juga menyatakan keberadaan Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam karya keselamatan. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan: apakah ini bertentangan atau justru saling melengkapi? Untuk memahami hal ini dengan benar, diperlukan pendekatan yang menyeluruh dari konteks Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.
Makna “Shema” dalam Tradisi Israel
Kata “dengarlah” dalam Ulangan 6:4 berasal dari bahasa Ibrani Shema, yang tidak hanya berarti mendengar secara fisik, tetapi juga mencakup ketaatan dan komitmen hidup. Dalam kehidupan bangsa Israel, Shema adalah inti dari iman mereka. Ayat ini diucapkan setiap hari, pagi dan petang, bahkan diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini sebagai bagian dari pembentukan identitas rohani mereka.
Pengulangan ini memiliki tujuan yang jelas, yaitu menanamkan keyakinan bahwa Allah yang mereka sembah adalah satu-satunya Allah yang benar. Hal ini menjadi sangat penting karena mereka hidup di tengah bangsa-bangsa yang menyembah banyak allah. Dengan demikian, Shema bukan hanya pengakuan teologis, tetapi juga benteng iman yang menjaga umat Israel dari pengaruh penyembahan berhala.

Polemik Trinitas dan Tuduhan Politeisme
Dalam perjalanan sejarah Kekristenan, doktrin Trinitas sering menjadi pusat perdebatan. Sebagian kelompok menganggap bahwa ajaran tentang Bapa, Anak, dan Roh Kudus menunjukkan adanya tiga Allah, sehingga dianggap bertentangan dengan konsep monoteisme. Bahkan, ada yang menyebut doktrin ini tidak masuk akal atau tidak memiliki dasar Alkitab yang kuat.
Namun, tuduhan ini sebenarnya muncul dari kesalahpahaman terhadap konsep Trinitas itu sendiri. Kekristenan tidak pernah mengajarkan adanya tiga Allah, melainkan satu Allah yang dinyatakan dalam tiga pribadi yang berbeda namun tidak terpisah. Dalam sejarah gereja, termasuk di kalangan pionir Advent, memang pernah ada keraguan terhadap konsep ini. Tetapi seiring dengan pendalaman Alkitab, pemahaman yang lebih utuh menunjukkan bahwa Trinitas justru memperkaya pengertian tentang keesaan Allah, bukan meniadakannya.
Baca juga : Niat Baik Tapi Salah - Uza dan Pelajaran Ketaatan yang Sering Diabaikan
Jejak Kejamakan dalam Keallahan di Perjanjian Lama
Sejak kitab Kejadian, Alkitab telah memberikan petunjuk tentang adanya dimensi kejamakan dalam keesaan Allah. Kata Elohim yang digunakan dalam Kejadian 1:1 berbentuk jamak, meskipun sering dipasangkan dengan kata kerja tunggal. Selain itu, penggunaan kata “Kita” dalam beberapa ayat seperti Kejadian 1:26, 3:22, dan 11:7 menunjukkan adanya percakapan dalam lingkup keallahan.
Lebih lanjut, kata “esa” dalam Ulangan 6:4 menggunakan istilah echad, yang berarti satu kesatuan yang utuh, bukan satu secara absolut tanpa unsur lain. Kata ini juga digunakan dalam Kejadian 2:24 untuk menggambarkan dua pribadi yang menjadi satu dalam pernikahan. Hal ini memberikan gambaran bahwa keesaan Allah bukanlah kesendirian mutlak, melainkan kesatuan yang harmonis dalam keberagaman pribadi.

Kesaksian Perjanjian Baru tentang Trinitas
Perjanjian Baru memberikan penjelasan yang lebih terang mengenai relasi antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam peristiwa baptisan Yesus, ketiga pribadi hadir secara bersamaan: Yesus dibaptis, Roh Kudus turun seperti merpati, dan suara Bapa terdengar dari surga. Ini menjadi salah satu bukti kuat bahwa ketiganya bekerja dalam kesatuan yang ilahi.
Selain itu, Amanat Agung dalam Matius 28:19 dengan jelas menyebutkan baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tulisan para rasul seperti dalam 1 Petrus 1:2 dan 2 Korintus 13:14 juga menunjukkan pola yang sama. Semua ini menegaskan bahwa sejak awal, gereja memahami keallahan sebagai satu kesatuan yang melibatkan tiga pribadi ilahi dalam karya keselamatan manusia.
Baca juga : 7 Ayat Alkitab Penguat Iman di Tengah Permasalahan dan Pencobaan Kehidupan
Perkembangan Pemahaman Trinitas dalam Sejarah Gereja
Pemahaman tentang Trinitas tidak muncul secara instan, melainkan berkembang melalui pergumulan teologis dalam sejarah gereja. Tokoh-tokoh gereja mula-mula seperti Theofilus, Irenaeus, dan lainnya telah mengakui keberadaan Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam satu kesatuan ilahi. Meskipun istilah “Trinitas” baru digunakan kemudian, konsepnya sudah ada sejak zaman para rasul.
Dalam konteks Gereja Advent, pemahaman ini juga mengalami perkembangan. Pada awalnya terdapat keraguan, namun melalui studi Alkitab yang mendalam, gereja akhirnya menegaskan bahwa Trinitas adalah ajaran yang alkitabiah. Tulisan Ellen G. White memperkuat pemahaman ini dengan menyebut adanya tiga pribadi ilahi yang bekerja bersama dalam rencana keselamatan. Hal ini menunjukkan bahwa doktrin Trinitas bukanlah hasil tradisi manusia, melainkan pengungkapan progresif dari kebenaran Alkitab.

Konsep keesaan Allah dalam Ulangan 6:4 tidak bertentangan dengan doktrin Trinitas, melainkan justru memperdalam pemahaman tentang siapa Allah itu. Alkitab secara konsisten menyatakan bahwa Allah adalah satu dalam esensi, tetapi dinyatakan dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Keesaan ini adalah kesatuan yang sempurna dalam kasih, tujuan, dan karya keselamatan.
Walaupun keallahan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh logika manusia, iman memberikan keyakinan bahwa Allah yang esa itu nyata dan dekat. Ia bukan hanya konsep teologis, tetapi Pribadi yang hadir, mengasihi, dan menyertai umat-Nya. Melalui Yesus Kristus, manusia diperkenalkan kepada Allah sebagai Bapa dan Sahabat, sementara Roh Kudus bekerja dalam hati untuk membimbing dan menguatkan. Inilah keindahan iman Kristen: satu Allah yang hidup dan bekerja dalam kesatuan sempurna bagi keselamatan manusia.
Bagikan berita ini...
Jemaat Distrik Toba Barat mengadakan pelayanan masyarakat serentak se-DSKU di Desa Silaen, Huta Lumban Toba dengan membagikan traktat kesehatan, pemeriksaan kesehatan gratis, serta membantu membersihkan rumah lansia sebagai wujud kasih dan pelayanan kepada sesama yang membutuhkan.
Jemaat Sarfat Alur Baning, Aceh Tenggara, menggelar pelayanan masyarakat dengan membagikan 40 gelas bubur kacang hijau, traktat kesehatan, dan buku rohani gratis. Kegiatan ini menjadi wujud kasih Tuhan sekaligus mempererat toleransi antarumat beragama di Desa Alur Baning pada Mei 2026.
Makna rohani bejana pembasuhan dalam Keluaran 30:17-21 mengajarkan pentingnya refleksi diri dan penyucian sebelum datang kepada Tuhan. Melalui simbol cermin dan air, kita diingatkan untuk hidup kudus, meninggalkan dosa, dan siap masuk hadirat-Nya.
PA Shine RSAM mengunjungi pasien rawat inap di Rumah Sakit Advent Medan pada Sabtu (16/5/2026) melalui pelayanan bertema “Jalan Bersama Tuhan”. Anak-anak Adventurer mendoakan pasien dan membagikan berkat sebagai wujud kasih, sekaligus belajar melayani, peduli, serta bertumbuh dalam iman kepada Tuhan.
BWA Jehovah Rapha Paspampres melayani 70 warga binaan di Lapas Pondok Bambu, Jakarta Timur, melalui ibadah bertema “Mengerti Waktunya Tuhan” pada 18 Mei 2026. Pelayanan penuh kasih ini menghadirkan penguatan rohani, pujian haru, doa, serta pembagian 70 lunch box bagi seluruh peserta.
Dalam rangka Hari Pathfinder Sedunia 2026, Pathfinder dan Adventurer jemaat Maranatha Martoba membagikan 30 buah pir dan buku rohani “Harapan” kepada masyarakat di Bukit Maratur, Pematang Siantar. Kegiatan ini menjadi sarana belajar melayani, berbagi, dan menunjukkan kasih Kristus kepada sesama.
Renungan dari Keluaran 17 tentang Masa dan Meriba mengajarkan bahwa Tuhan selalu bertanggung jawab atas setiap perintah-Nya. Belajar dari sikap Israel dan Musa, kita diajak mengandalkan Tuhan sebagai Gunung Batu yang memberi pertolongan di tengah pergumulan hidup.
Jemaat GMAHK Bintaro melalui program Bimbel GEMA menghadirkan bimbingan belajar gratis bagi sekitar 200 anak SD-SMP di Tangerang Selatan. Didukung Pemuda Advent Bintaro, kegiatan rutin ini menjadi wujud pelayanan pendidikan sekaligus pusat pengaruh gereja bagi masyarakat dan generasi muda.
Jemaat Distrik Dairi Pusat melaksanakan pelayanan masyarakat dengan membersihkan rumput liar di pinggir Jalan Sireccer dan Batu Ganda, Desa Pangguruan, Minggu (10/5/2026). Kegiatan yang dilakukan Jemaat Kanaan Balna dan Efesus Parsaoran Batu Ganda ini mendapat apresiasi warga sekitar.
Distrik Karo Selatan mengunjungi penyandang disabilitas dan warga yang baru dibaptis di Desa Kutambaru, Kecamatan Tiganderket, Minggu (10/5/2026). Melalui doa bersama dan pembagian 5 paket sembako, pelayanan ini dilakukan untuk menunjukkan kasih Tuhan serta menguatkan iman jemaat.









