
Banyak Orang Ternama Mencari Ketenangan Dengan Cara Yang Salah. Pencapaian bisa membuat kita tenang?
Jul 22, 2021, 6:49 AM
Nia Ramadani mengejutkan Indonesia. Dia ditangkap polisi oleh karena penggunaan Narkoba. Mencari ketenangan Narkoba? Bukankah Nia mempunyai semua harta yang bisa digunakan menikmati kehidupan yang tenang dan nyaman?
Ternyata tidak. Ada pergumulan batinnya yang tidak dapat diteduhkan oleh kekayaan dan kecantikannya. Narkoba diharapkannya dapat mengisi. Dan pelanggarannya itu mahal harganya. Dia harus bayar dengan mendekam di penjara, diberitakan secara negative, dan terpisah sementara dari anak yang dia cintai.
Dalam kehidupan sebagai manusia kita terus menerus dipenuhi dengan kegelisahan di dalam batin kita. Ada yang berkata, “kalau saya sudah tamat kuliah, sudahlah, saya akan puas dan hidup tenang.”
Ada pula yang berkata, “kalau saya sudah punya rumah, atau kalau saya menjadi pimpinan, atau kalau saya sudah jadi juara, atau kalau saya sudah punya uang satu trilyun, kalau saya sudah ini dan sudah itu,” “sudahlah, saya akan merasa puas, istirahat, dan hidup tenang.”
Terbukti, bahkan Michael Phelps, olahragawan yang paling berhasil di Olimpiade. Dia meraih 28 medali, di mana adalah 23 medali emas itu merupakan Rekor dunia. Tetapi perjalanan hidupnya yang sukses itu dia akui banyak menderita depresi, bahkan usaha untuk bunuh diri.
Ketahuilah bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan ketenangan, sejahtera, kepuasaan, dan istirahat berdasarkan pencapaian kita. Nyatanya, semakin kita mengejar keberhasilan, semakin banyak sumber kegelisahan yang datang.
Salahkah kalau kita berkeinginan dan bercita-cita? Tidak salah. Karena justru untuk bertumbuhlah dan bertambahlah kita ini dijadikan Tuhan.
Kita harus pahami kondisi dasar kita manusia. Paulus katakan: Di dalam Roma 3
10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. 11 Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. 12 Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.
Inilah kondisi kita sekarang. Apapun kebesaran dan kehebatan yang kita miliki, sesungguhnya tidak satupun kita yang benar dan cerdas. Menyeleweng, tidak berguna, dan tidak berbuat baik adalah diri sejati kita.
Itu sebabnya Roma 2:9 Paulus katakan: “Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat.” Itulah harga mahal dari kondisi kita yang penuh penyimpangan. Kita mengejar istirahat dan ketenangan dengan dasar diri kita yang menyimpang, Derita dan kesesakan adalah bayarannya.
Tetapi, jangan khawatir, kita dapat berdoa seperti Raja Daud ketika dia sadari penyimpangannya: “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mzm. 51: 12).
Inilah kuncinya. Carilah Tuhan setiap hari. Mintalah hati yang tahir. Berdoalah untuk batin yang baru. Di dalam Yesus yang telah membayar mahal kesalahan kita, maka senantiasa damai sejahtera akan menyertai kita.
ITU KEREN, Kehidupan Dalam Renana Tuhan!
*Diambil dari Program #ItuKeren
<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/ksbI3sOII3I" title="YouTube video player" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
Makna Shema dalam Ulangan 6:4 menegaskan keesaan Allah dalam Kekristenan. Pelajari hubungan monoteisme dan doktrin Trinitas berdasarkan Alkitab, dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, serta perkembangan pemahamannya dalam sejarah gereja.
Menghadirkan damai dan pengharapan baru di hati melalui 7 pilihan lagu penuh makna. Setiap lagu mengangkat kisah pengorbanan dan kebangkitan Kristus, menjadi teman refleksi iman yang menenangkan serta memperkuat hubungan rohani dalam suasana penuh sukacita.
Niat baik sering dianggap cukup, tetapi kisah Uza dalam Alkitab membuktikan sebaliknya. Pelanggaran terhadap ketetapan Ilahi, meskipun terlihat sepele, tetap membawa konsekuensi serius. Temukan makna ketaatan sejati dan pelajaran rohani dari peristiwa ini.
Bisnis hampers Lebaran menjadi peluang usaha musiman yang menjanjikan. Dengan ide kemasan kreatif, pilihan produk yang tepat, dan strategi promosi yang efektif, hampers bisa menjadi sumber keuntungan menarik saat momen Hari Raya tiba.
Persahabatan di tengah perbedaan keyakinan menunjukkan bahwa toleransi, rasa hormat, dan sikap saling menghargai dapat membangun hubungan yang kuat. Dalam kehidupan yang penuh keberagaman, persahabatan mampu menjadi jembatan yang menyatukan orang-orang dari latar belakang iman yang berbeda sehingga tercipta keharmonisan, pengertian, dan kedamaian dalam kehidupan bersama.
Puasa pertama kali bagi non-Muslim bisa menjadi pengalaman yang membuka wawasan, meningkatkan kesehatan, melatih ketahanan mental, serta menumbuhkan empati lintas keyakinan. Simak manfaat dan dampak positifnya secara lengkap di sini.
Imlek 2026 memasuki Tahun Kuda Api yang penuh semangat, perubahan, dan harapan baru. Dibahas makna Imlek 2026, simbol dan tradisi yang dijaga, refleksi menyambut tahun baru, serta ucapan Imlek yang umum digunakan di Indonesia lengkap dengan artinya, disajikan secara netral dan toleran.
Tujuh ayat Alkitab yang menguatkan iman di tengah permasalahan dan pencobaan hidup, menolong orang percaya menemukan pengharapan, kekuatan rohani, dan penyertaan Tuhan melalui Firman-Nya serta pembelajaran Kristen yang membangun iman.
Sekolah Sabat Remaja menjadi wadah penting bagi generasi muda untuk mengenal Firman Tuhan, membangun karakter, dan menemukan komunitas yang sehat. Dengan pendekatan dialogis dan relevan, Sekolah Sabat membantu remaja menghadapi tantangan hidup modern tanpa merasa dihakimi. Artikel ini membahas bagaimana Sekolah Sabat Remaja dapat membentuk iman, memperkuat karakter, dan menuntun mereka memiliki relasi yang hidup bersama Kristus.
Di balik sosok dewasa yang tampak kuat, sering tersembunyi anak kecil yang masih membawa luka lama. Luka yang tak pernah disembuhkan itu dapat membentuk pola asuh beracun yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui proses berdamai dengan inner child, kita belajar memahami sumber rasa sakit, memaafkan masa lalu, dan menciptakan pola cinta yang baru. Inilah langkah awal untuk membebaskan diri dari rantai toxic parenting dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri dan anak-anak kita.









